Hikmah Isro Mi'raj Nabi Muhammad saw

Isra Mi'raj : Hikmah Isro Mi'raj Nabi Muhammad saw


Allah SWT telah menetapkan dalam satu tahun terdapat 12 bulan, dan diantara 12 bulan itu ada 4 bulan yang dimuliakan oleh Allah, yaitu 3 bulan berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram serta satu bulan terpisah yaitu Rajab.

Dalam Sejarah Islam tercatat, bahwa ada peristiwa penting yang terjadi di bulan Rajab ini, yaitu peristiwa Isra dan Mi’rajNabi Muhammad saw. Peristiwa ini telah mengguncang akidah sebagian besar kaum muslimin pada waktu itu, karena kejadian ini merupakan kejadian yang tidak masuk akal dan perkara yang mustahil terjadi serta tidak bisa diterima dengan logika manusia pada waktu itu.

Orang-orang kafir Quraisy beranggapan, bahwa mana mungkin perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsha ditempuh dalam waktu singkat. Padahal pada masa itu perjalanan sejauh itu membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan. Terlebih lagi perjalanan mi’raj dari masjidil Aqsha ke langit ke tujuh hingga ke sidratul muntaha, bagi mereka merupakan hal yang mustahil, dan tidak masuk akal.

Ketika Nabi Muhammad saw menceritakan pengalamannya pergi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, kemudian ke langit ke 7 hingga Sidratul Muntaha dalam waktu semalam, maka orang-orang kafir Quraisy mentertawakannya. Mereka memperolok-olok Nabi Muhammad saw, dengan mengatakannya sebagai orang gila, yang sudah tidak waras lagi. Sementara banyak orang yang telah masuk Islam, akhirnya murtad kembali karena tidak percaya akan Isra’ dan Mi’raj.

Abu Bakar ra, ketika ditanyakan apakah dia mempercayai Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw, maka dengan penuh keyakinan ia berkata, “Jika yang berkata demikian itu adalah Muhammad bin Abdullah, maka yang lebih aneh dari itu pun aku percaya, karena sesungguhnya Muhammad itu tidak pernah berbohong.”

Meski Nabi Muhammad saw tidak pernah berbohong, sehingga sampai beliau dijuluki Al Amin (Yang Terpercaya) oleh orang-orang Quraisy Mekkah, tapi hanya sedikit sekali orang-orang Islam yang beriman akan cerita Nabi Muhammad saw tersebut. Tapi Abu Bakar ra, tampil sebagai orang yang tidak pernah meragukan sediitpun apapun yang datang dari Rasulullah saw. Dan Abu Bakar ra, adalah salah satu dari sedikit orang itu, yang dengan tegas dia menyatakan keyakinannya, bahwa apa yang datang dari Nabi Muhammad adalah benar adanya, sehingga beliau dijuluki oleh Nabi Muhammad saw sebagai Ash Shiddiq.

Perhatikanlah firman Allah SWT berikut ini,

“Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’: 1)

Dalam ayat tersebut di atas Allah SWT memulainya dengan kata subhaana yang merupakan jawaban bagi siapapun yang tidak mempercayainya. Sungguh Allah Maha Suci dari segala apa yang mereka katakan. Tidak mungkin Allah SWT menyebarkan kedustaan, termasuk mengutus seorang Rasul yang dusta. Lalu apalah guna risalah itu kalau disebarkan oleh seorang Nabi Pendusta.

Peristiwa ini merupakan kejadian penting bagi Nabi Muhammad saw, karena Allah SWT ingin memperlihatkan kepada hamban-Nya sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya.

Sungguh Allah SWT Maha Kuasa untuk memperjalankan hambanya dalam waktu semalam untuk menempuh jarak jauh, bahkan lebih dari itu pun Allah Maha Kuasa. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah Berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka terjadilah ia.” (QS. Yasiin: 82)

Dan itulah ujian keimanan, Allah SWT ingin menguji sampai di mana keimanan manusia yang telah mengatakan bahwa dirinya beriman. Dengan demikian akan nampak siapa yang benar dengan keimanannya dan siapa yang berdusta. Allah SWT berfirman:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami Telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabuut: 2-3)

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa isra’ dan mi’raj serta dapat menjaga shalat yang lima waktu sebagai oleh-oleh yang diperintahkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw dari peristiwa tersebut. 

Semoga Kita dapat mengambil hikmahnya
Wallahu’alam.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Arti Mimpi Firasat Atau Bunga Tidur?

Oleh Karena itu jika Anda Para pemimpi sebaiknya Baca Terlebih dahulu

Pada hakikatnya, mimpi adalah deretan dari gambaran mental yang saling bertalian dan berlangsung selama orang tidur. Memahami mimpi hanya sebagai akibat dari pengaruh mekanisme fisik dan cermin dari gejala psikologis (kejiwaan) yang dialami seseorang semata.

Labels